oleh

Pengguna Internet Di Indonesia Terus Mengalami Peningkatan

 

LeponganNew.com–Tana Toraja,Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) baru saja merilis hasil survey mereka terkait jumlah pengguna internet di lndonesila yang pada kuartal II 2020 mencapai hampir 200 juta user pengguna.

 

Angka pertumbuhan ini tergolong tinggi karena dipengaruhi oleh beberapa hal di antaranya ketersediaan infrastruktur internet yang makin cepat dan merata hingga ke berbagai pelosok tanah air, transformasi digital dari metode belajar offline ke online pasca pandemi covid-19, dan tumbuhnya aktivitas perdagangan online sebagai akibat adanya pembatasan interaksi langsung oleh aturan protokol kesehatan tetap diberlakukan secara massif.
Survey APJII didukung oleh hasil penelitian Indonesia

Survey Center (ISC) yang menyebutkan pelaku daring mencapai 73,7% dari total jumlah penduduk Indonesia atau setara dengan jumlah 196,7 juta dari total 266,9 juta rakyat Indonesia (BPS).
Jika disimak angka tersebur naik dari tahun lalu yang hanya 171 juta pengguna. Tentu dengan kenaikan ini pelaku pasar dapat menangkap momentum tentang trend era digital dan arah market memenuhi selera ekonominya.

Lalu lintas perdagangan online sejak Maret 2020 hingga akhir kuartal III 2020 mengalami lonjakan transaksi dan pelaku kapitalisasinya yang terbesar adalah dari sektor UMKM dan Mikro.
Tidak dapat dipungkiri bahwa era digital memaksa semua pelaku pasar untuk mengubah metode penjualan.

Stepanus Palullunan, Amd. Tra. Ant-III, SE. Direktur KSU Bintang Muda 88 Tana Toraja memberi gambaran tentang trend perdagangan digital di tahun 2021 akan diwarnai dengan perang StartUp.
“Kita sudah lihat gerai-gerai raksasa mulai bertumbangan seperti KFC yang menutup 100 gerainya. Perusahaan retail seperti Giant Supermaket, Hero, Ramayana, dan masih banyak lagi yang harus menutup gerainya sepanjang 2019, bahkan hingga pandemi covid 19 jauh lebih banyak lagi yang harus mengurangi usahanya demi mengubah format lama ke baru hanya untuk bertahan dan eksis,” tandas Stepanus.

Fakta tentang anomali bisnis StartUp tidak dapat dipungkiri mulai menggeser bisnis konvensional.
Belajar dari Gojek dan Grab yang mampu menguasai jasa transportasi, jika dipikir dua raksasa unicorn itu tidak memiliki jasa angkutan, namun hanya dengan modal web startup mereka mampu menguasai jalanan mengalahkan taxi

konvesional dan sejenisnya.
StartUp lain yang bergerak dalam bidang makanan dan minuman juga telah bertumbuh dengan pesat seperti Kopi Kenangan yang konsepnya mirip Srarbuck dan Excelso. Juga ada Blekros Diet, Happy Fresh, Berry Kitchen, Black Garlic, Pasar Minggu, dan masih banyak lagi. Dari starUp yang bergerak pada bidang jasa transportasi, makanan dan minuman, jasa pelatihan dan lusinan jasa lainnya, medical seperti Halo Dokter. developer/konstruksi, retail, konsultan politik, IT, hingga pada bidang pendidikan seperti Ruang Guru adalah suatu kenyataan tentang massifnya bisnis startup di Indonesia.

Lalu apa yang terjadi dengan UMKM yang tetap beroperasi di luar jejaring StartUp?
“MenstartUpkan UMKM pada intinya mempercepat mereka tumbuh dalam bisnis global dibandingkan UMKM yang hanya mengandalkan perdagangan luring,” kata Stepanus kembali memberikan gambaran singkat. “Tinggal sekarang bagaimana pemerintah menyediakan sarana digitalisasi dengan konsep startUp UMKM untuk mengangkat lebih banyak UMKM dengan konsisten menggandeng koperasi sebagai marketplace atau jaringan kemitraan UMKM itu,” tutup Stepanus.Hambatan mendasar yang kini dihadapi oleh UMKM untuk digitalisasikan juga masih terbentur pada manajemen tata kelolanya terlebih belum ada skema konkrit dari kementrian dan stakholder terkait jika UMKM distartupkan dengan menjalin kemitraan dengan koperasi, sebab koperasi tetap sebagai garda terdepan dalam ketahanan ekonomi nasional.(Asry)

News Feed