oleh

Uang, Darah Dan Kematian Di Toraja

Lepongan Bulan.News-Munculnya istilah Orang Kaya Baru atau OKB belakangan ini, mengundang  kontroversi di kalangan Masyarakat Toraja. Bermula dari Video Dokumenter “ROYAL BLOOD” oleh VICE INDONESIA mengusung tagline Uang, Darah dan Kematian di Toraja disajikan dalam 3 bagian, berhasil tampil kritis dan cukup membahas topik yang menegangkan untuk dikonsumsi “Generasi Orang Kaya Baru” di Toraja.

Perlu diketahui,  Vice Indonesia adalah Brand Media asal Kanada yang terkenal menyajikan konten-konten lokal dengan gaya jurnalisme yang mampu bercerita secara mendalam dan berani, membuka fakta tentang cerita tersembunyi dari keberagaman.

Media Barat ini Hadir pertama kali di Asia Tenggara, Tepatnya pada 1 November 2016 dan langsung memilih Indonesia menjadi tempat singgahnya yang pertama.  Dibawah pimpinan direktur pelaksana Mo Morris, beliau mengatakan “Vice akan menghadirkan pandangan segar yang mempertanyakan kearifan konvensional, sehingga sajian konten lokal akan lebih mendalam, menegaskan ciri dan gaya khas tulisan-tulisan Vice yang kerap hilang dari pusaran media yang hiruk-pikuk”.

Itu bisa anda buktikan sendiri lewat Video Dokumenter “Royal Blood” Uang, Darah dan Kematian di Toraja. Mengundang kontroversi bukan?  Bahkan Media ini berani menuliskan Statement yang berbunyi: “VICE Indonesia berkunjung ke dataran tinggi Sulawesi Selatan untuk melihat dengan mata kepala sendiri dampak datangnya generasi orang kaya baru di Toraja terhadap tradisi kuno pemakaman mereka yang penuh dengan darah” .

Dilanjutkan dia bercerita dengan kritis: “Di dataran tinggi provinsi Sulawesi Selatan, upacara pemakaman adalah peristiwa besar. Tradisi ini sudah berlangsung selama beberapa dekade, namun datangnya generasi “orang kaya baru” (OKB) di Toraja telah mengancam fondasi dari upacara pemakaman mereka yang luhur sekaligus penuh darah ini. Koresponden  Aria Danaparamita menyambangi Toraja Utara untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana para OKB menggelar upacara pemakaman dengan jor-joran, bahkan melampui apa dulu dilakukan oleh kaum darah biru”

Mencerna lebih dalam, topik seperti ini terlalu yang berat untuk kita bahas dilingkungan kita sendiri, ini erat kaitannya dengan siapa saya? apa strata sosial saya? sehingga mampu berbicara menanggapi “Generasi Orang Kaya Baru di Toraja” ? Frasa “orang kaya baru” merupakan ejekan dan memiliki konotasi negatif. sebagaimana Sistem Kasta itu masih menjadi hantu yang menakutkan, tidak jarang ada yang lari bersembunyi mengucilkan diri untuk hidup bermasyarakat dengan kaum di atasnya.

Berbeda dengan Tim dari VICE INDONESIA dengan berani datang menyambangi daerah kita seolah memberi alarm bahwa Toraja darurat “Orang Kaya Baru” betulkan itu? Tongan raka? Dari sini saya melempar pertanyaan dari akun media sosial saya untuk publik:

“Generasi ORANG KAYA BARU di Toraja yang berpesta Besar-besaran melebihi Kaum Darah Biru, dianggap telah merusak nilai luhur Rambu Solo’ yang Sesungguhnya. Betulkah?
Lalu bagaimana kita memahami bahwa Roda Kehidupan Berputar, darah di tubuh kita bukan jaminan untuk mendapatkan “Materi Sebanyak-banyaknya/Kekayaan” melainkan kerja keras. Bukankah, generasi ini menunjang agar adat kita tetap bertahan dan berjalan? Atau jika anda menentang, apa alasan anda?”

Jawabannya pun beragam ada pro dan ada kontra. Saya coba menyimpulkan:

Dari pihak yang tidak mempermasalahkan  kelakuan “Generasi Orang Kaya Baru”  mengatakan, Fenomena seperti ini adalah perkembangan zaman, apapun itu semua ada masanya seperti adat yang berjalan seiring perkembangan zaman. Sama halnya dulu, belum ada orang yang mengenal agama, bahkan mata pencarian masyarakat masih susah, makanya ada istilah “Diotok ba’tu dipatok tu anggenna ladipogau’ “  Sama halnya zaman sekarang mata pencarian atau “Dakaran Kande” orang pintar/orang sukses sudah ada, maka “na patassu’ duka tu kadenanna”, dia mengeluarkan juga apa yang di miliki “na pogau’ tu misa’ sara’ ba’tu aluk” ritual rambu solo’ sesuai kemampuannya.

Dari sisi kontra yang sangat menentang kelakuan “Generasi Orang Kaya Baru di Toraja”  turut berkomentar bahwa, zaman sekarang ritual rambu solo’ sudah jauh melebihi ukuran yang semestinya. Istilah kerennya “habis-habisan” sehingga mengancam nilai luhur Rambu Solo’ yang sesungguhnya. bukan lagi fokus melaksanakan ritual sesuai tatanannya, tapi ini lebih kepada “Posisinya nanti di masyarakat” sehingga dari sini muncul istilah “Morai di sanga” sampai ada yang berkomentar “tilabe-labe” , siapapun dia kalau mampu dan turut melestarikan budaya perlu diacungi jempol, asal dia berpatokan pada tatanan adat misalnya 24 ekor kerbau. Kalau sudah melebihi dari itu apalagi kalau sudah sampai ratusan, bukan lagi adat tapi pembantaian binatang.

Bagaimana sebenarnya pemotongan hewan dalam Ritual Rambu Solo’ di Toraja?

Pertama, Dalam kebudayaan masyarakat Toraja dikenal 4 macam tingkat atau strata sosial, diantaranya:

  • Tana’ Bulaan atau golongan bangsawan
  • Tana’ Bassi atau golongan bangsawan menengah
  • Tana’ Karurung atau rakyat biasa/rakyat merdeka
  • Tana’ Kua-kua atau golongan hamba.

Saya tidak tahu apa ini masih berlaku, atau masihkah masyarakat menyebut-nyebut jenis darah ketika berinteraksi, tapi dulu sistem kasta ini sangat kental diberlakukan. Berdasarkan strata sosial orang atau keluarga yang meninggal, ritual rambu solo’ dibagi menjadi 4 jenis:

  1. Ritual Disilli’, Ritual pemakaman untuk orang Toraja yang memiliki strata sosial paling rendah, atau pada anak-anak yang belum mempunyai gigi. Dalam ritual ini tidak ada pemotongan hewan. Yang dilakukan hanya “dedekan” ritual pemakaman dengan memukulkan wadah tempat makan babi dan “pasilamun tallo manuk” Ritual pemakaman bersama telur ayam.
  2. Ritual Dipasangbongi, Ritual pemakaman orang Toraja yang berasal dari Tana’ Karurung (Rakyat Biasa/Merdeka) yang hanya berlangsung selama satu malam. Untuk pemotongan hewannya, ada: Bai a’pa’ (persembahan empat ekor babi), Tedong tungga (persembahan satu ekor babi), Di isi (pemakaman untuk anak yang meninggal sebelum tumbuh gigi dengan persembahan seekor babi) Ma’ tangke patomali (persembahan dua ekor babi).
  3. Ritual Di batang atau di doya tedong, Ritual Pemakaman Masyarakat Toraja untuk mereka yang berasal dari Starata Sosial tana’ basi (bangsawan menengah) dan tana’ bulan (bangsawan tinggi). Ritual ini biasanya digelar selama 3-7 hari berturut-turut. Setiap hari satu ekor kerbau ditambatkan pada sebuah patok dan dijaga oleh orang sepanjang malam tanpa tidur. Selama ritual ini berlangsung, setiap hari ada pemotongan satu ekor kerbau. Pada akhir ritual, dibuatkan sebuah simbuang (menhir) sebagai monumen untuk menghormati orang yang wafat.
  4. Ritual Rapasan, Ritual Pemakaman khusus bagi golongan tana’ bulan (bangsawan tinggi) yang digelar sebanyak 2 kali. dan terbagi lagi menjadi beberapa jenis:
  • Ritual Rapasan Diongan atau Didandan Tana’ (artinya di bawah, atau menurut syarat minimal). Korban kerbau sekurang-kurangnya 9, dan babi sebanyak yang dibutuhkan/sebanyak-banyaknya. Oleh karena ritual rapasan dilaksanakan sebanyak dua kali, maka ritual pertama dilaksanakan selama tiga hari di halaman Tongkonan, dan ritual kedua dilaksanakan di Rante.
  • Ritual Rapasan Sundun atau Doan (ritual sempurna/atas). Ritual ini membutuhkan korban kerbau sekurang-kurangnya 24, dengan jumlah babi yang tak terbatas untuk dua kali. Ritual ini diperuntukkan bagi bangsawan tinggi yang kaya, atau para pemangku adat. Ritualnya berlangsung seperti Ritual Rapasan Diongan
  • Ritual Rapasan Sapu Randanan (secara literal diartikan serata dengan tepi sungai). Ritual Rapasan Sundun berlangsung dengan korban kerbau yang melimpah (rapasan simbolik dengan persembahan yang diandaikan 30 ekor kerbau, bahkan ada tempat yang Dima’dikai yang menyebutkan di atas 100 ekor kerbau)

Nah, Dari rangkuman singkat ritual Rambu Solo’, dijadikan patokan masyarakat Toraja dahulu untuk melaksanakan ritual Rambu Solo’ bagi sanak keluarga yang meninggal. Sehingga dengan munculnya “GENERASI ORANG KAYA BARU” di Toraja, maka secara tidak langsung ada sebagian pihak mengajak kita untuk melihat kembali tatanan Ritual Rambu Solo’ yang sesungguhnya sesuai status sosialmu-lah?

Atau  Maaf, ada yang ingin protes bahwa kamu adalah kaunan, tidak pantas kamu pulang melaksanakan Aluk, Sara’ atau Ritual besar-besaran sementara kamu bukan dari kaum bangsawan. Saya juga melihat fenomena lain yang konteksnya sama, soal siapa yang pantas duduk di Lumbung saat mengikuti sebuah Ritual di Toraja baik rambu Tuka’ maupun Rambu Solo’ yang dulu aturannya bahwa Kelompok Hamba/Kaunan tidak boleh duduk dilumbung. Terus sekarang, bagaimana jika ada hadir dalam Ritual Anggota DPR, Camat, Lurah yang berasal dari kelompok tersebut?

Saudara, Tahukah anda bahwa Roda Kehidupan itu terus berputar, kita mengajarkan kepada anak-anak kita bahwa di masa yang akan datang nak, kamu harus bisa sukses “Mendadi Tau” makanya kamu harus bekerja keras, belajar sebaik mungkin agar bisa mengubah nasib kita. Tidak mungkin dari Kelompok Kaunan mengeluarkan statement bahwa saya memegang teguh Strata Sosial Hamba yang saya punya, saya mau miskin terus dan tetap menjadi hamba selama-lamanya? Manusia Normal ingin hidupnya sejahtera, keluarganya dihormati, terlebih kehidupannya berkecukupan bahkan lebih. Maka dari itu, kelompak ini terus bekerja keras untuk mengumpulkan pundi-pundi uang sebagai bukti bahwa dia bisa mengubah nasibnya dari miskin, atau biasa-biasa saja menjadi “Orang Yang Kaya”

Tidak tepat jika kita mau meributi kekayaan orang, apalagi meributi tentang strata sosialnya dulu dan sekarang. Biarlah itu menjadi urusannya, ingat,  darah di tubuh kita bukan jaminan untuk mendapatkan “Materi Sebanyak-banyaknya/Kekayaan” melainkan kerja keras. Bagaimana kita bisa melaksanakan Ritual kalau tidak pendanaan?

Mindset atau pola pikir manusia dari hari kehari terus berubah tergantung di lingkungan mana dia bergaul, maka dari itu karena mereka tahu mereka tidak punya apa-apa sehingga mereka harus terus berusaha. Jika saat ini mereka sukses, tidak alasan untuk melarang-larang mereka melakukan “Sara’ “ toh, uang yang mereka pakai hasil keringatnya sendiri bukan? Uang, uang mereka kok? Mereka pun juga orang Toraja, lahir dari darah orang Toraja. Tapi harus tahu porsinya dan bukankah lebih baik kita tahu Who am I? Siapa saya?  daripada nanti menerima Who are you? Siapa Kamu?

Dari Orang Kecil menjadi Orang Besar, melewati Proses yang panjang. Proses itulah memampukan kita memilih. Jika Orang Tua atau Sanak Keluarga yang meninggal, Kitalah Anak-anaknya, saudaranya yang masih hidup ini yang menentukan. Mau diapakan? Bagaimana adat, agama dll harus dilaksanakan hingga pengantaran terakhir almarhum ini beristirahat dengan tenang.

Terakhir 2 poin dari saya:

  • Jangan sampai kita memakai adat sebagai alasan untuk melindungi rasa iri hati kita kepada sesama, dan
  • Jangan sampai kita memakai adat sebagai alasan untuk menunjukkan kesombongan dan keakuan kita.

Tetap jadi diri sendiri, karena ADAT itu sama dengan tubuh kita, harus dijaga dan dihargai. Sekarang tinggal bagaimana orang yang ada dalam lingkaran Adat itu “SIPAKILALA” karena Toraja itu kerinduan banyak orang dari kejauhan. Salama’. Eunike Pakiding.

News Feed