Lepongannews.com, LUWU RAYA – Perayaan Paskah tahun 2025 membawa pesan mendalam bagi umat Kristiani, khususnya keluarga Katolik.

Tema nasional yang diusung oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) tahun ini adalah “Damai Sejahtera Kristus di Tengah Keluarga”, yang diangkat dari Injil Yohanes 20:26.
Tema ini bukan hanya menjadi pengingat spiritual, tetapi juga menjadi ajakan nyata untuk membawa damai Kristus ke dalam kehidupan rumah tangga.
Dalam Injil tersebut, dikisahkan bagaimana Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya yang tengah ketakutan dan mengunci diri di dalam rumah.
Kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka membuktikan bahwa damai sejahtera bukanlah hal yang abstrak atau jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan nyata dan sangat relevan, terlebih dalam dinamika keluarga modern.
Pesan ini menjadi inti dalam homili Pastor Yongki Wawo, MSC saat memimpin misa perayaan Paskah di Stasi Mariri, Desa Salulemo, Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan pada Minggu, 20 April 2025.
Ia menegaskan bahwa kebangkitan Kristus adalah momen bagi setiap keluarga Katolik untuk menghayati kembali peran mereka sebagai “gereja kecil” yang menjadi tempat pertama pendidikan iman, kasih, dan damai.
“Setiap rumah tangga harus menjadi ruang damai yang saling menguatkan, adil, peduli, dan bebas dari kekerasan,” ujar Pastor Yongki.
Ia mengingatkan bahwa keluarga Katolik tidak boleh menutup diri hanya pada urusan internal, melainkan harus mampu membawa damai Kristus menjangkau sesama di luar lingkungan keluarga.
Menurutnya, peran Roh Kudus sangat penting dalam memampukan keluarga untuk menjadi pembawa damai di tengah masyarakat yang semakin kompleks.
Dalam konteks ini, rumah tangga bukan hanya tempat tinggal fisik, tetapi juga pusat misi Kristiani yang menyebarkan cinta kasih dan pengharapan.
Sementara itu, Ketua Wilayah III Paroki Siti Maryam Saluampak, Anthonius Rapang, dalam sambutannya menyoroti tantangan berat yang dihadapi keluarga modern.
Ia menyebutkan berbagai bentuk ancaman seperti relasi yang timpang antaranggota keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, judi online, dan masalah kesehatan mental yang terus meningkat.
“Kekerasan, judi online, dan gangguan mental makin mengancam keutuhan dan keharmonisan keluarga,” tegasnya.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya gaya hidup sederhana dan kepedulian sosial, termasuk pelestarian lingkungan sebagai bagian dari iman yang bertanggung jawab.
Anthon, yang juga seorang pegawai di Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu Utara, mengajak seluruh umat untuk memperkuat spiritualitas keluarga melalui doa bersama, membaca Firman, dan membangun komunikasi yang sehat.
Ia menekankan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk masyarakat yang bermoral dan beriman.
“Harapan kita, keluarga-keluarga Katolik menjadi teladan iman yang mampu memberi pengaruh positif di tengah masyarakat Indonesia, terkhusus di Bumi Lamaranginang, Luwu Utara,” pungkasnya.
Perayaan Paskah di Luwu Utara tahun ini tidak hanya menjadi momentum iman, tetapi juga panggilan nyata bagi setiap keluarga untuk hidup dalam damai dan membagikannya kepada dunia sekitar.
*** Megasari/Yustus






Komentar