Lepongannews, Luwu Raya – Bagi kebanyakan anggota Credit Union Sauan Sibarrung (CUSS), beternak babi masih belum menjadi fokus dan belum mendapat perhatian yang besar, masih dianggap sebagai usaha sampingan saja.

Hal ini kelihatan juga dari cara mereka memberikan pakan ternak yang masih seadanya. Banyak anggota CUSS yang memang belum tahu memanfaatkan sumber daya alam yang ada disekitar mereka untuk diolah menjadi pakan ternak dengan cara fermentasi.
Hal ini terungkap saat fasilitator Karolus dalam materi pemeliharaan ternak babi yang benar dan efisien, Selasa 24 Oktober 2023 di Dusun Pangalli Desa Dandang Kecamatan Sabbang Selatan, Kabupaten Luwu Utara ( Lutra) Sulawesi Selatan (Sulsel).
Pendidikan Latihan (Diklat) pemeliharaan dan membuat pakan babi fermentasi itu merupakan salah satu program yang dicanangkan CUSS TP Saluampak untuk meningkatkan pertumbuhan produksi ternak babi.
Pelatihan itu dihadiri oleh 16 anggota CUSS TP Saluampak. Dikesempatan tersebut, selain latihan membuat pakan babi fermentasi dari kerang kuning di sawah ataupun disungai dan kerang di pohon. Fasilitator juga memberi materi membuat disinfectant babi untuk menangkal ancaman serangan virus.
Sementara Staf Pemberdayaan Markus Kalemben didampingi Staf Diklat Pemberdayaan Antonius Julianus, mengatakan, seluruh anggota CUSS TP Saluampak yang memelihara ternak babi menjadi target realisasi dari pelaksanaan kegiatan pelatihan tahun 2023 dan kedepannya.
Sehingga Staf CUSS berharap bahwa melalui program pembuatan pakan babi fermentasi, unsur kepeduliaan terhadap lingkungan hidup dan unsur perbaikan kesejahteraan ekonomi masyarakat akan terwujud.
“Kenapa kita memilih program ini? Yang kita harapkan ke depan bahwa akan terjadi efisiensi dalam proses produksi ternak babi,” sebutnya.
Ia membeberkan, efisiensi proses produksi yang dimaksud adalah efisiensi waktu, efisiensi anggaran, dan efisiensi lingkungan hidup.
Lewat program pemeliharaan ternak babi yang benar dan pemberian pakan babi fermentasi, lanjut dia, anggota CU yang beternak babi akan membuat pakan babi yang dapat dipakai selama satu sampai dua bulan ke depan.
Selain itu, anggota pun tidak perlu lagi mencari kayu api setiap hari sehingga lingkungan hidup tetap terjaga.
“Kita tidak perlu lagi memasak pakan babi. Jadi lewat proses produksi pakan babi fermentasi ini, benar-benar sangat membantu ke depan,” tambahnya.
Lebih dari itu, ujar Karolus, dengan proses fermentasi maka terjadi peningkatan gizi untuk ternak babi sehingga kesehatan babi akan terawat.
Sementara terkait disinfectant, ia pun menjelaskan fungsinya yang bermanfaat untuk menjaga kebersihan kandang, anti virus, dan mengurangi bau tak sedap dari kotoran babi.
Fasilitator menegaskan, bahwa lembaga CUSS menargetkan adanya peningkatan produksi ternak babi di kalangan anggota ke depan.
Peningkatan daya produksi, ungkap dia, menggambarkan terjadinya sebuah proses pertumbuban sehingga dapat memperbaiki kesejahteraan ekonomi anggota.
Sebab itu, tegas dia, peternak babi tidak boleh memelihara babi hanya untuk sekedar mengisi waktu saja, tetapi harus berdampak pada peningkatan taraf hidup setelah ada perubahan proses produksi pakan.
“Yang tadinya hanya bisa pelihara 2 babi karena disibukan dengan segala macam urusan yang cukup repot, lewat proses fermentasi maka ke depannya akan naik menjadi 3, 4, 5, 6, dan seterusnya,” jelasnya.
Untuk diketahui bahwa, sebenarnya ada banyak sumber daya alam di kebun atau ladang anggota untuk diolah menjsdi paksn ternak. Diantaranya rumput, daun lamtoro, daun gamal, rumput benggala, keong mas, pisang dan daunnya, tomat yang dibuang dan sebagainya.
Pada diklat tersebut, peserta aktif berdiskusi dengan narasumber/fasilitator tentang pengalaman-pengalaman yang mereka alami selama beternak. Memang, para peserta yang hadir rata-rata sudah beternak babi dengan cara sederhana dan masih dengan pakan yang itu itu sajz dan belum beragam.
” Dan dengan adanya diklat ini, peserta diharapkan bisa lebih bijak dalam pemilihan bahan pakan yang ada disekitar mereka,” terangnya.
Pewarta: Mega/Yus







Komentar