Lepongannews.com, LUWU RAYA – Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., menerima penganugerahan gelar adat dari Kedatuan Luwu di Istana Datu Luwu, SalassaE, Jumat (3/10/2025) kemarin.
Gelar yang diberikan adalah,“To Makkadanggange ri Labu’ Tikka,” yang bermakna orang yang senantiasa Istiqamah dalam menegakkan kebenaran.
Prosesi adat dipimpin langsung oleh Datu Luwu XL, H. Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, SH.
Rangkaian upacara diawali dengan penyambutan adat, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, doa, serta ritual khas Luwu berupa Rijasangngi Sigerrang, pemasangan Tappi Luwu, dan penyematan pin kehormatan.
Dalam kesempatan tersebut, Opu Pa’bicara Kedatuan Luwu, Lutfy A. Mutty, menyampaikan sambutan mewakili YM Datu Luwu XL.
Ia menegaskan kembali pesan penting tentang relevansi kehadiran istana adat di tengah arus modernisasi dan globalisasi.
Menurutnya, istana bukanlah simbol feodalisme, melainkan penjaga budaya dan identitas masyarakat.
Arahan YM Datu Luwu XL juga menyoroti pentingnya nilai-nilai budaya sebagai identitas bangsa.
Ia mengingatkan bahwa tanpa pijakan pada adat dan budaya, sebuah bangsa akan kehilangan jati diri. Jepang, Cina, dan Korea disebut sebagai contoh negara modern yang tetap berpegang pada tradisi leluhur.
Lebih jauh, YM Datu Luwu menekankan bahwa di Sulawesi Selatan, identitas budaya bertumpu pada nilai Siri, Lempu, Getteng, Ada Tongeng, Macca, dan Warani.
Nilai-nilai ini, katanya, hanya dapat hidup jika ditopang oleh hadirnya figur-figur panutan sebagai teladan.
Dalam arahannya, YM Datu Luwu juga menyinggung kondisi bangsa yang dinilai memprihatinkan akibat maraknya praktik korupsi di berbagai lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, hingga lembaga benteng demokrasi seperti MK dan KPK.
Ia menyoroti pula kementerian kesehatan, pendidikan, dan agama yang sejatinya menjadi simbol kesehatan fisik, akal, dan jiwa, justru para menterinya pernah tersandung kasus korupsi.
Karena itu, YM Datu Luwu berpesan agar para pejabat negara senantiasa menjaga integritas, “tidak silau oleh harta, tidak lumpuh oleh jabatan, dan tidak tuli oleh pujian.”
Momentum penganugerahan gelar adat kepada Menteri Agama RI ini sekaligus meneguhkan Kedatuan Luwu sebagai simpul budaya dan kebangsaan yang menjembatani harmoni antara adat, agama, dan negara.
Acara ini turut dihadiri oleh Bupati Luwu, H. Patahudding, S.Ag., Wali Kota Palopo, Hj. Nelly Trisal, serta berbagai tokoh adat, pejabat, dan masyarakat Luwu Raya.
***Benny/Yustus








Komentar