Lepongannews.com, LUWU RAYA – Di tengah gegap gempita reformasi sosial, kisah pilu seorang janda tua miskin punya anak lima bernama Kalobong (62) dari Dusun Rante Bone, Desa Buangin, Kecamatan Sabbang Selatan, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan menjadi sorotan.

Hidup di rumah reyot yang beralaskan tanah. Kalobong hanya ditemani dua anaknya yang satu buta bernama Salim (36) dan yang satu belum berkeluarga bernama Layuk (31), Minggu (25/5/2025).
Anak yang buta ditemani ibunya dan tidak ada lahan mereka kerja hanya itu gubuk reyot dan dibelikan keluarganya. Anak yg bernama Layuk hanya buruh harian dalam artian, kalau ada masyarakat panggil untuk bekerja disawah atau dikebun, ladang baru ada upahnya untuk kehidupan bersama ibunya dan kakaknya Salim yang buta sejak lahir, dengan penghasilan tak menentu.

Bila panen padi Layuk menjadi buruh di kombain dan menjadi satu-satunya tumpuan hidup keluarga. Setelah ditinggal sang suami, Kalobong tidak memiliki sandaran ekonomi, sementara kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk bekerja.
Ironisnya, program bedah rumah yang diluncurkan di desa ini tidak menyertakan Kalobong sebagai penerima manfaat. Padahal, kondisi rumahnya dinilai jauh lebih memprihatinkan dibanding beberapa penerima lainnya yang dianggap lebih mampu.
“Rumah ini reyot, Kalobong sudah tua dan tidak bisa bekerja lagi. Anaknya Layuk yang menanggung semuanya. Tidak adil kalau mereka tidak mendapatkan bantuan,” ujar Kepala Dusun Rante Bone, Hendra para media ini.
Kepala Dusun mengatakan sudah beberapa kali saya usulkan ke pemerintah desa, tapi sampai saat ini tidak ada respon dan jawaban. Saya mau buat apa lagi?” keluhnya.
Kisah ini mencuat setelah viral di media sosial dan diberitakan media ini, pada Sabtu 24 Mei 2025. Kritik dari warga menyebut pembagian program bedah rumah penuh dengan pilih kasih.
Bahkan ditempat lain beberapa penerima bantuan bedah rumah disebut menggunakan dana tersebut untuk membangun rumah baru di atas tanah lain, sementara Kalobong tetap bertahan di rumah tidak layak huni.
“Program ini harusnya untuk mereka yang benar-benar membutuhkan. Kalau seperti ini, di mana keadilan sosial yang dijanjikan pemerintah?” keluh seorang warga desa.
Kasus ini mencerminkan wajah buram penyaluran bantuan sosial yang tidak tepat sasaran. Warga berharap pemerintah desa dan pihak terkait segera mengambil langkah konkret untuk mengevaluasi program tersebut, memastikan keadilan tercapai sesuai visi pemerintahan saat ini.
Kini, masyarakat Desa Buangin menantikan tindakan nyata yang dapat mengembalikan kepercayaan mereka. Kisah Kalobong menjadi pengingat pentingnya pengawasan dan transparansi dalam implementasi program sosial agar benar-benar menyentuh mereka yang paling membutuhkan.
*** Benny/Yustus






Komentar