Lepongannews.com, LUWU RAYA – Seorang janda berusia 60 tahun bernama Kalobong, warga Dusun Rante Bone, Desa Buangin, Kecamatan Sabbang Selatan, Kabupaten Luwu Utara hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan bersama lima anaknya, salah satunya mengalami kebutaan sejak lahir bernama Salim (36).
Sebagai Janda, Kalobong tinggal di sebuah gubuk kayu berukuran 4×6 meter yang dibelikan oleh anaknya bernama Layuk (31), yang bekerja sebagai buruh di mesin dozer padi (kombain) saat musim panen.
Rumah tersebut beratapkan daun rumbia dan beralaskan tanah, tanpa fasilitas memadai. Tanah tempat berdirinya rumah itu juga hanya berukuran 8×14 meter.
“Saya tidak tahu harus kemana lagi. Sudah lama sekali kami hidup seperti ini. Anak-anak saya terpaksa tidak sekolah karena tidak ada biaya. Bahkan untuk makan sehari-hari pun seringkali susah,” ungkap Kalobong dengan suara terbata-bata kepada Pemerhati Sosial, Bunga, Sabtu (24/5/2025).
Suaminya telah lama meninggal dunia, meninggalkan beban berat yang kini dipikul oleh Kalobong seorang diri.
Penghasilan keluarga ini hanya bergantung dari pekerjaan Layuk sebagai buruh musiman yang penghasilannya tidak menentu.
Kelima anak Kalobong sudah berhenti sekolah karena ketiadaan biaya, dan kehidupan sehari-hari mereka bertahan dari hasil buruh saat panen saja.
Rumah yang ditempati Kalobong juga hanya memiliki dua kamar tidur yang dibuat dari bilah bambu dan tidak layak huni.
Mereka tidur tanpa kasur, hanya beralaskan ranjang bambu. Sumber listrik seadanya berdaya 400 watt pun dibayarkan oleh pemilik mesin panen tempat Layuk bekerja.
Kondisi yang dialami Kalobong mengundang keprihatinan dari Pemerhati Sosial, Bunga.
Ia mendesak pemerintah daerah agar segera mengambil tindakan konkret.
“Kami sangat prihatin dengan kondisi keluarga ini. Ini bukan masalah yang bisa dibiarkan begitu saja. Kami berharap pemerintah daerah segera turun tangan agar mereka tidak terus hidup dalam kesulitan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bunga mendesak agar Pemerintah Kabupaten Luwu Utara memberikan bantuan rumah layak huni karena ada bantuan sosial, serta akses kesehatan bagi anak Kalobong yang mengalami kebutaan.
“Ini adalah kisah nyata perjuangan seorang ibu dalam kondisi yang sangat berat. Kami berharap pemerintah, masyarakat, dan organisasi keagamaan turut membantu agar keluarga ini dapat keluar dari kemiskinan ekstrem,” tambahnya.
Warga sekitar Dusun Rante Bone juga menunjukkan rasa empati. Mereka berharap agar perhatian pemerintah bisa segera hadir, karena solidaritas masyarakat tak cukup untuk menopang kehidupan keluarga Kalobong yang serba kekurangan.
Kisah keluarga Kalobong janda tua ini, menjadi pengingat bagi kita semua bahwa, dibalik kemiskinan yang tak terkatakan, masih ada harapan untuk meraih kehidupan yang lebih baik, jika kita semua bersatu untuk saling membantu.
Dengan kondisi ini yang diungkapkan Pemerhati Sosial Bunga, berdasarkan laporan warga sehingga menelusuri lokasi secara langsung guna mengungkap fakta yang terjadi terhadap kondisi janda lima anak dan satu buta sejak lahir dan sekarang berumur 36 tahun.
Kisah Kalobong menjadi potret nyata ketimpangan dan kemiskinan yang masih terjadi di wilayah pedesaan Sulawesi Selatan, dan menjadi pengingat bahwa banyak keluarga membutuhkan uluran tangan untuk bertahan hidup dengan layak.
*** Benny/Yustus






Komentar