oleh

Sinopsis, Tana Rongkong dengan Budaya dan Parawisata

-News-98 views

 

Oleh: Ir. DEWI SARTIKA PASANDE, M.Sc

LEPONGANNEWS, LUWU UTARA – Ketika Nek Malotong beranjak dewasa, dia bertapa dilokasi semburan air oanas Lepong Bulan dan mendapat beberapa benda pusaka yang dijadikan Ajimat dan diberi nama ‘TO BUALE’.
Ajimat itu terdiri dari beberapa benda pusaka yakni, patung orang-orangan, pedang, tombak dan perisai yang terbuat dari batu. Benda pusaka tersebut adalah pemberian Dewata melalui air panas Lepong Bulan. Air panas yang keluar daru dua lubang semburan dan mengelyarkan bunyi air panas ini, sampai sekarang masih dikeramatkan oleh masyarakat setempat.

Nek Malotong menyimpan ajimatnya didalam keranjang peti yang bernama KURUNGAN. Kesaktian ajimat To BUALE digunakan oleh Nek Malotong saat akan berperang, jika ada satu wilayah yang akan diserang kala itu, maka Nek Malotong mengelilingi wilayah tersebut sebayak tujuh kali dengan membawa kurungan (keranjang peti).

Setelah mengelilingi wilayah tersebut tujuh kali, kurungan dilemparkan kedalam wilayah yang akan diserang. Anehnya, seketika itu pula penduduk yang berada didalam wilayah tersebut, mereka sendiri saling perang hingga hancur lebur. Karena ajimat itulah, sehingga Nek Malotong menjadi sakti mantraguna. Dan dengan kesaktiannya Nek Malotong diundang pelh Kerajaan, Datu Luwu untuk
merampas ‘KALAPENDANG’ (benda ysng terbuat dari emas tulen sebesar kelapa) dari kekuasaan Raja Cimpu.

Seperti biasanya, setiba di negeri Cimpu seiring dengan terbenamnya matahari. Kemudian Nel Malotong mengelilingi negeri Cimpu sebanyak tujuh kali, kemudian melemparkan To Buale kedalam negeri Cimpu. Malam itu juga terjadilah perang diantara mereka sendiri, yang mengakibatkan kehancuran luar biasa di negeri itu. Ketika fajar mengingsing kelidatan negeri Cimpu dalam keadaan sunyi ibarat tak berpenghuni, sehingga dengan leluasa Nek Malotong mencari dan menemukan ‘KALAPENDANG’.

Yang kemudian dibawahnya
kembali ke Istana Kerajaan Datu Luwu. Karena kegembiraan atau keberhadilan Nek Malotong, maka Datu Luwu mengadakan pesta penjemputan ‘KALAPENDANG’, maka diundanglah para petinggi dan tamu kerajaan. Melihqt salah satu Tomakaka belum hadir yakni, Tomakaka Masamba. Hal ini mengundanf amarah Datu Luwu, dan tidak disangka terlontar kalimat dari mulut Datu Luwu demikian. Kata Datu Luwu ‘ Naparrui Bila’-Bila’, yang artinya hukuman mati bagi Tomakaka Masamba kala itu.

Situasi atau kondisi tersebut, membuat Nek Malotong bersedih hati atas hukuman yang ditimpahkan kepada Tomakaoa Masamba. Atas kesedihan itu Nek Malotong berpikir, lalu mengeluarkan KALAPENDANG dari keranjang bambunya, yang kemudian diserahkan kepada Tomakaka Masamba untuk digunakan menari-nari dihadapan Datu Luwu itu.
Melihat situasi ini, Datu Luwu mengurungkan niatnya untuk melaksanakan hukuman mati pada Tomakaka Masamba.

Sekembalinya dari peserta penjemputan KALAPENDANG, Tomakaka Masamva berkenan mengundang Nek Malotong mampir dikediamannya (BANUA SULU, red), yang kemudian ‘lahirlah perjanjian (TALLI’) yang isinya yakn, ” Mulai sekarang (kala itu) Masamba dan Kanandede dianggap bersaudara kandung dengan ‘ Lambangi Ussi Sape’ki Tanduk Tedong”, itulah sebabnya ada nama kamohng SA’PEK di Kota Masamba hingga sekarang.

Dalam satu kisah diceriterakan, Nek Malotong mendapat TITAH lagi dari Istana Kerajaan Datu Luwu, untuk mengambil ‘SARUNG MALEA’ di negeri seberang. Sekarang bernama Kendari (Suoawesi Tenggara). Dengan kesaktiannya berangkatlah Nek Malotong melaksanakan perintah Datu Luwu denfan penuh rasa tanggungjawab dan berhasil lagi merebut ‘SARUNG MALEA’ denfan menggunakan TO BUALE ajimatnya.

Demikian pula diceriterakan, suwtu ketkka masyarakat Palopo bergotongroyong membangun ‘LANGKANAE’ (Istana Raja), dan tiba-tiba datang segerombolan Lebah menyerang para pekerja, seketika itu pula pekerja lari berhamburan msninggalkan bangunan, kemudian lebah-lebwh tersebut membuat beberapa sarang pada tiang-tiang bangunan. Masyarakat menjadi bingung.

Melihat hal tersebut, Datu Luwu mengeluarkan perintah segera memanggil Nek Malotong dan menceriterakan kejadiannya. Berangkatlah Nek Malotong bersama pesuruh Datu ke Palopo.
Setibanya di Palopo, Nek Malotong lalu membaca mantra, kemudian meniup-niup sarang lebah, spontan satu persatu lebah beterbangan meninggalkan sarangnya dan hilang seketika.

Karena kesaktian Nek Malotong yang telah berkali-kali menolong Datu Luwu, denfan keanehan dan keajaiban yang diperlihatkannya, maka Nek Malotong diberi penghargaan yang berkaitan dengan Tana Rongkong di Istana Kerajaan Luwu, yakni WARA’ IATU TANA RONGKONG PALOPO LEMBANA TASAN SANGKALANA SIBALI LEMBANNA PALOPO SITINTI WARA DIPOULUNNA MP WARA SALANGKA MATANDENA PALOPO.

Berkat kesaktian dan perjuangan Nek Malotong, masyarakat Rongkong terbebas dari perhambaan Palopo, dan dilantik menjadi PEMANGKU ADAT TANA RONGKONG (Tomakaka Kanandede Rongkong).

Dan diberi semboyan dengan nama RONGKONG adalah ‘Masyarakat terhormat, masyarakat Pangadaran, benteng pertahanan Datu Luwu, Tomaraneina, To Tana Lalong, Mesa Kada Dipotuo Pantan Kada Dipomate, itulah Sinopsis Nek Malotong dari Kanandede Rongkong.(ditulis kembali Dewi Sartika Pasande). (yustus)

Komentar